Minggu, 28 Mei 2017

JEPANG AKAN MENGATASI KEMACETAN DI INDONESIA

Masa Depan dengan Harapan Besar dan Kemacetan



Nama saya Ishii, Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 2017, saya menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Joko Widodo, dan dengan demikian dimulailah tugas saya secara resmi sebagai Duta Besar Jepang untuk Indonesia.
    Pertama-tama, sebagai salah satu uji coba, saya memutuskan untuk membuat essay corner yang berisi tulisan saya berjudul “EKB 62” pada situs resmi Kedutaan Besar Jepang ini. “EKB 62” adalah semboyan yang saya ciptakan, diambil dari huruf awal kata-kata “Embassy - Kerja Bersama” (atau dalam bahasa Jepang tomo ni hataraku taishikan. Sedangkan angka 62 adalah total jumlah staf yang datang dari Jepang dan saat ini sedang bertugas di Kedutaan Besar Jepang. Dengan semangat kerja bersama dengan Saudara-saudara di Indonesia, maka saya memutuskan membuat semboyan “EKB 62” ini.
    Untuk ke depannya saya bermaksud menulis satu kali setiap bulan tentang hal-hal yang saya rasakan saat itu. Mohon bantuan dan kerja samanya.

Masa Depan dengan Harapan Besar


    Saya yakin Saudara-saudara yang melihat situs ini pasti sudah mengetahui hal yang akan saya katakan: Indonesia adalah negara yang sangat besar dan memiliki masa depan yang penuh harapan.
    Luas daratan Indonesia sekitar 1.900.000 km2, sekitar lima kali dari luas Jepang. Di seluruh dunia, Indonesia menempati posisi ke-15 (sedangkan Jepang berada di posisi ke-62). Yang paling menarik adalah Indonesia memiliki lebih dari 14.000 pulau, dengan jarak yang sangat lebar! Dibutuhkan waktu sekitar 8 jam dengan pesawat untuk pindah dari masing-masing bagian ujung Indonesia, dan terdapat tiga pembagian waktu di dalam negeri. Jarak antara bagian paling barat pulau Sumatera, yaitu Aceh, dengan Jayapura, Papua di bagian paling timur, lebih dari 5.100 km. Jarak tersebut hampir sama dengan lebar Amerika Serikat. Apabila jarak ini ditarik dari selatan ke utara, jaraknya persis sama antara Jakarta ke Kota Kagoshima!
    Dari sisi populasi penduduk, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penduduk sekitar 260.000.000 jiwa, jumlah penambahan penduduk lebih dari 3.000.000 jiwa setiap tahun dengan usia rata-rata penduduk 29 tahun. Sedangkan Jepang menempati posisi ke-10 dengan jumlah penduduk sekitar 12.600.000 jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir ini, setiap tahun jumlah penduduk di Jepang berkurang sekitar 100.000 jiwa dengan usia rata rata penduduk 46 tahun. Dipandang dari sisi ini, dapat dikatakan bahwa “momentum” kedua negara sangat berbeda.

Zaman yang benar-benar berubah


    Dilihat dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia menempati posisi ke-16 di seluruh dunia dengan nilai PDB sebesar 930 miliar USD. Di Asia sendiri, Indonesia berada di posisi ke-5 setelah Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, India dan Korea Selatan. Namun karena populasi penduduk Indonesia hampir dua kali lipat dari penduduk Jepang, PDB Indonesia kurang dari 1/5 PDB Jepang. PDB per orang sekitar 3600 USD dan berada pada posisi ke-117 dari seluruh dunia. Ini serupa dengan kondisi Jepang pada paruh pertama tahun 1970-an.
    Namun jika sudut pandangnya diubah seperti ketika pertama kali saya berkunjung ke Indonesia pada tahun 1999, PDB per orang sebesar 671 USD (IMF). Dalam waktu tidak sampai 20 tahun, PDB per orang meningkat lebih dari 5 kali lipat.
    Kali ini saya kembali mengunjungi Indonesia setelah sekian lama. Walaupun ada berbagai masalah, namun saya merasa kehidupan masyarakat lebih sejahtera secara nyata. Dikatakan bahwa “population bonus” akan berlanjut hingga 20 tahun ke depan. 20 tahun ke depan menjadi kunci apakah Indonesia dapat memanfaatkan potensi-nya.
    Tahun 1999 merupakan periode di mana Indonesia mengalami berbagai masa sulit di bidang politik pula. Dalam berbagai gejolak seperti kerusuhan tahun 1998, berakhirnya kepemimpinan Soeharto, serta kemerdekaan Timor Leste, penerapan demokrasi ternyata menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan secara lancar. Namun, saya merasa sistem demokrasi Indonesia saat ini telah berada pada posisi yang telah berakar kuat dan tidak perlu diragukan lagi.
    Jika dirangkum dalam sebuah kalimat, saya merasa Indonesia, ke mana saya pulang setelah sekian lama, berkembang begitu pesat hingga rasanya zaman benar-benar berubah. Sebagai seseorang yang mencintai Indonesia, saya benar-benar bangga akan hal ini.

Macet dan macet


    Satu-satunya hal yang semakin memburuk sejak sebelum tahun 1999 adalah kemacetan di dalam kota Jakarta. Jarak dari kediaman resmi saya ke Kedutaan Besar Jepang kurang dari 5 km saja. Walaupun pendek, pada situasi normalpun waktu tempuh pagi dan malam hari ketika berangkat dan pulang kerja lebih dari 30 menit. Pada saat-saat kurang beruntung, waktu tempuhnya bisa lebih dari 2 jam. Waktu tempuh yang sulit diprediksi membuat saya harus berangkat lebih awal sehingga seringkali saya harus menunggu sampai sekitar 20 menit dekat lokasi pertemuan untuk menghabiskan waktu. Namun itu lebih baik bukan, daripada terlambat. Sangat disayangkan bahwa situasi seperti ini memang menimbulkan kerugian dari sisi ekonomi.
    Untuk mengurangi masalah kemacetan di kota Jakarta, sudah beroperasi bus dengan jalur khusus. Namun jalur khusus ini mengakibatkan jalur kendaraan biasa menjadi sempit dan belum berhasil mengurangi kondisi kemacetan sampai saat ini. Yang dapat diharapkan sebagai kartu utama untuk mengurangi masalah kemacetan adalah MRT, yang sebagian jalurnya merupakan kereta bawah tanah dan saat ini pembangunannya sedang berlanjut. Pengerjaan utama proyek tersebut dilakukan oleh perusahaan Jepang.

    Kenyataannya, Jakarta adalah kota area Metropolitan berpopulasi penduduk terbanyak di dunia yang tidak memiliki kereta bawah tanah. Dari segi jaringan kereta bawah tanah, jika dilihat dari sudut pandang bukan dari ibu kota melainkan dari area Metropolitan, Tokyo-Yokohama merupakan area Metropolitan terbesar di dunia dengan penduduk sebanyak 37.800.000 jiwa.Dilanjutkan oleh Jakarta dengan penduduk sebanyak 30.500.000 jiwa. Peringkat ketiga adalah New Delhi dengan jumlah 25.000.000 jiwa. Kereta bawah tanah di Delhi sudah mulai beroperasi sejak Desember 2012, dan saat ini, 15 tahun kemudian, mereka sudah memiliki jalur jaringan kereta bawah tanah sepanjang 209 km. Posisi keempat adalah Manila dengan jumlah 24.100.000 jiwa. Saat ini mereka sedang membangun jaringan kereta bawah tanah dengan target mulai beroperasi pada tahun 2020. Namun, mereka juga telah memiliki jaringan LRT sepanjang 17 km yang sudah beroperasi sejak Desember 1999.
    Saat ini hanya ada satu jalur MRT yang dibangun di Jakarta, yaitu jalur selatan-utara yang akan diuji coba pada tahun 2018. Jika berjalan baik, ditargetkan jalur ini akan mulai beroperasi tahun 2019. Apabila manfaat dan kepraktisannya dapat dirasakan, saya rasa akan ada lebih banyak jalur kereta bawah tanah yang dibangun setelahnya.
    Apabila kerja keras ini berhasil, maka 20 tahun kemudian saya akan bertemu dengan Indonesia yang semakin berkembang sampai mencapai dimensi yang berbeda dan di sisi lain, saya berharap akan datang hari di mana kita bisa mengatakan “kemana perginya macet itu?” di Jakarta.

Sumber : Kedutaan Besar Jepang Indonesia

1 komentar: